Kamis, 27 Juni 2013

SUKU-SUKU BUMI PUTERA DI SUMATERA SELATAN.


SUKU KOMERING
Komering merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung. Suku Komering terbagi atas dua kelompok besar: Komering Ilir yang tinggal di sekitar Kayu Agung dan Komering Ulu yang tinggal di sekitar kota Baturaja.

Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras.

Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak.

SUKU PALEMBANG

Kelompok suku Palembang memenuhi 40 - 50% daerah kota palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok : Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia. suku Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari.
 
Suku Palembang masih tinggal/menetap di dalam rumah yang didirikan di atas air. Model arsitektur rumah orang Palembang yang paling khas adalah rumah Limas yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk melindungi dari banjir yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Di kawasan sungai Musi sering terlihat orang Palembang menawarkan dagangannya di atas perahu.

SUKU GUMAI

Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat. Sebelum adanya Kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang.

Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat.

SUKU SEMENDO/SEMENDE

Suku Semendo berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarahnya, suku Semendo berasal dari keturunan suku Banten yang pada beberapa abad silam pergi merantau dari Jawa ke pulau Sumatera, dan kemudian menetap dan beranak cucu di daerah Semendo.

Hampir 100% penduduk Semendo hidup dari hasil pertanian, yang masih diolah dengan cara tradisional. Lahan pertanian di daerah ini cukup subur, karena berada kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut. Ada dua komoditi utama dari daerah ini : kopi jenis robusta dengan jumlah produksi mencapai 300 ton per tahunnya, dan padi, dimana daerah ini termasuk salah satu lumbung padi untuk daerah Sumatera Selatan.

Adat istiadat serta kebudayaan daerah ini sangat dipengaruhi oleh nafas keIslaman yang sangat kuat. Mulai dari musik rebana, lagu-lagu daerah dan tari-tarian sangat dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Semendo. Setiap kata pada setiap bahasa ini umumnya berakhiran "e."

SUKU LINTANG

Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan.

Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan : kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, ayam, itik, bebek, dll. Mereka tidak mencari nafkah di sektor perikanan walaupun tinggal di tepi sungai.

Orang Lintang adalah penganut Islam yang cukup kuat. Hal ini terlihat dengan banyaknya mesjid-mesjid dan pesantren untuk melatih kaum mudanya.

KAYU AGUNG

Suku Kayu Agung berdomisili di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan ibukotanya Kayu Agung. Wilayah ini dialiri sungai Komering. Bahasanya terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kayu Agung dan dialek Ogan.

Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah hanya dikerjakan saat musim hujan.

Suku Kayu Agung mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga mempertahankan kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya para arwah.

SUKU LEMATANG

Suku Lematang tinggal di daerah Lematang yang terletak di antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Daerah ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Suku ini menempati wilayah di sepanjang sungai Lematang, di sekitar kota Muaraenim dan kota Prabumulih.

Asal usul orang Lematang dari kerajaan Majapahit, keturunan orang Banten dan Wali Sembilan.

Orang Lematang sangat terbuka dan memiliki sifat ramah tamah dalam menyambut setiap pendatang yang ingin mengetahui seluk beluk dan keadaan daerah dan budayanya. Mereka juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Hal itu terbukti dari sikap gotong royong dan tolong menolong bukan hanya kepada masyarakat Lematang sendiri tetapi juga kepada masyarakat luar.

SUKU OGAN

Suku Ogan terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir. Mereka mendiami tempat sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Orang ogan biasa juga disebut orang Pagagan.  Suku Ogan terbagi  menjadi  3 (tiga) sub-suku, yakni: Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak, dan Suku Pegagan Ilir.

Kelompok masyarakat ini adalah penduduk asli dan bertani, tetapi banyak juga yang menjadi pegawai negeri.  Makanan pokok suku ini ialah hasil pertanian.

SUKU PASEMAH

Suku Pasemah adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Empat Lawang, kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, dan di sekitar kawasan gunung berapi yang masih aktif, gunung Dempo. Suku bangsa ini juga banyak yang merantau ke daerah-daerah di provinsi Bengkulu.

menurut sejarah, suku ini berasal dari keturunan Raja Darmawijaya (Majapahit) yang menyeberang ke Palembang (pulau Perca). Suku ini banyak yang tersebar di pegunungan Bukit Barisan, khususnya di lereng-lerengnya. Menurut mitologi nama Pasemah berasal dari kata Basemah yang berarti berbahasa Melayu. Hasil utama masyarakat suku ini ialah kopi, sayur-sayuran dan cengkeh dengan makanan pokoknya ialah beras.

SEKAYU

Suku Sekayu terletak di Propinsi Sumatera Selatan. Dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Mayoritas penduduknya petani. Hasil pertaniannya adalah padi, singkong, ubi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, cengkeh dan kopi. Industri rakyat yang terkenal berupa bata dan genteng.

Suku Sekayu merupakan "manusia sungai" dan senang mendirikan rumah-rumah yang langsung berhubungan dengan sungai Musi. Tidak seperti umumnya suku-suku di Indonesia, suku Bugis, Minangkabau atau Jawa, suku Sekayu jarang berpindah-pindah ke tempat yang jauh. Keinginan untuk lebih maju dan mencari keberuntungan mereka lakukan hanya sampai di ibukota propinsi.

Suku Sekayu yang tinggal di Palembang menduduki sektor-sektor pekerjaan yang penting, mulai dari guru besar/dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan, pekerja galangan dan penarik becak.

SUKU RAWAS

Suku ini terletak di wilayah propinsi Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar dua aliran sungai Rawas dan sungai Musi bagian utara. Suku ini menempati wilayah di Kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, di Kabupaten Musi Rawas. Bahasa Rawas masih tergolong ke dalam rumpun melayu. Di wilayah ini banyak terdapat kebun karet rakyat.

SUKU BANYUASIN


Suku ini terutama tinggal di kab. Musi Banyuasin yaitu di kec. Babat Toman, Banyu Lincir, Sungai Lilin, dan Banyuasin Dua dan Tiga. Umumnya mereka tinggal di dataran rendah yang diselingi rawa-rawa dan berada di daerah aliran sungai.

Sungai terbesar adalah sungai Musi yang memiliki banyak anak sungai. Mata pencaharian pokoknya adalah bertani di sawah dan ladang. Mereka masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda kekuatan gaib. Mereka juga menjalani beberapa upacara dan pantangan.

Selasa, 25 Juni 2013

Ada Terowongan di Bukit Barisan tembus ke kawasan Rimbacandi Pagaralam



PAGARALAM, KOMPAS.com — Warga Dusun Jambatakar, Kelurahan Jangkaremas, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan terowongan dengan panjang puluhan kilometer dan diameter sekitar dua meter.

“Kami tidak tahu yang mana bagian dari terowongan di daerah Bukit Barisan itu merupakan pintu masuknya, tapi panjangnya mencapai puluhan kilometer mulai dari daerah Bukit Kayu Manis, Kelurahan Jangkaremas, Kecamatan Dempo Utara, tembus ke kawasan Rimbacandi, Kecamatan Dempo Tengah,” kata Afan, tokoh masyarakat di Pagaralam, Kamis.

Menurut dia, di daerah Bukit Barisan yang membentang dari Dusun Kerinjing, Kecamatan Dempo Utara, hingga Rimbacandi, Kecamatan Dempo Tengah, memiliki banyak peninggalan sejarah dan penemuan benda-benda yang sudah berumur ribuan tahun.

“Memang kami hanya menemukan gua atau terowongan yang berukuran sebesar tubuh manusia dengan dinding bebatuan cadas dan keadaan di dalamnya gelap, sehingga tidak dapat melihat bila tidak menggunakan senter,” ujar dia.

Ia mengatakan, menurut keterangan orang tuanya, terowongan itu diketahui sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan panjangnya lebih dari 20 kilometer.

“Kalau zaman dahulu terowongan itu biasa digunakan untuk sarana transportasi dan memiliki cukup banyak cabangnya, namun saat ini kemungkinan hanya tinggal beberapa puluh meter saja yang masih utuh,” kata Afan.
Menurut Afan, kalau dilihat dari berbagai benda yang berhasil ditemukan, seperti piring keramik, botol keramik, sendok, keris, dan beberapa batu megalit, bisa dipastikan daerah sekitar terowongan itu merupakan perkampungan kehidupan masa lalu.

“Kami sudah sering menemukan benda-benda dari keramik, seperti piring, botol, mumi batu, dan beberapa jenis keris di daerah perbukitan Kayu Manis. Bahkan di kawasan itu juga terdapat megalit manusia menggendong anak, kapak batu, megalit batu kerbau dan tempat pemujaan atau dolmen,” ujar dia lagi.

Peneliti arkeologi dari Balai Arkeologi Palembang, Kristantina, menyatakan, kalau melihat dari penemuan sebelumnya, daerah itu merupakan kawasan permukiman orang zaman dahulu termasuk peninggalan zaman Belanda.

“Biasanya kalau ada penemuan benda-benda dari keramik menandakan di daerah itu sudah pernah dihuni manusia, termasuk penemuan megalit, namun kalau untuk terowongan masih perlu penelitian lebih lanjut,” kata dia.

SENI PAHAT ZAMAN PERUNGGU




CAMBRIDGE, KOMPAS.com — Arkeolog menemukan ratusan artefak di rawa Cambridgeshire, Inggris. Penemuan artefak itu merupakan yang terbesar dan mampu mengungkap potret kehidupan manusia pada zaman perunggu, lebih kurang 3.000 tahun lalu.

Keranjang anyaman, pegangan pedang berbahan kayu, dan fragmen tekstil adalah beberapa artefak yang ditemukan. Selain itu, ada pula pedang perunggu dan tombak.

Artefak peralatan makan juga ditemukan, yang berupa mangkok dan sendok kayu. Analisis artefak membuat ilmuwan pun tahu bahwa makanan favorit masyarakat kala itu adalah jelatang rebus.

Sebanyak enam perahu berbahan kayu pohon oak ditemukan dalam kondisi yang sangat baik hingga alur kayunya pun terlihat. Satu perahu berukuran 4 meter, sedangkan perahu yang terbesar berukuran 8,8 meter. 

Artefak ditemukan terkubur di kedalaman sekitar 4 meter. David Gibson, arkeolog dari Universitas Cambridge, mengatakan bahwa penemuan ini sangat penting secara internasional.

"Satu perahu itu bagus. Dua luar biasa. Tapi enam, ini mencengangkan, tampak rakus," kata Gibson seperti dikutip Daily Mail, Minggu (4/12/2011).

Mark Knight, senior project officer penelitian ini, mengungkapkan, "Sering dalam ekskavasi, butuh imajinasi untuk membuat penemuan tampak nyata. Tapi dalam penemuan ini, itu tidak perlu."

"Ini utuh. Rasanya seolah seperti kita menemukan orang-orang zaman perunggu itu. Rasanya seperti di sana," tambah Knight. Menurut Knight, saat ini diperlukan langkah konservasi artefak itu.

PENEMUAN BUKTI BARU JAMAN MEGALITIKUM DI SUMATERA SELATAN


Penemuan-penemuan benda bersejarah itu menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu. 

Balai Arkeologi Palembang menemukan bukti baru zaman megalitikum di Goa Napal Licin, Kabupaten Musirawas. Bukti tersebut berupa gundukan batu dan peralatan zaman batu. 
 
"Penelitian sebelumnya berhasil membuktikan adanya candi berupa gundukan batu bata," kata Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti ketika dihubungi, di Palembang, Sabtu (28/12). 
 
Menurut dia, sepanjang tahun 2012 pihaknya melakukan sejumlah penelitian khusus di Sumatera Selatan yang terbagi di beberapa lokasi. 
 
Di Kabupaten Musirawas, penelitian difokuskan di kawasan Goa Napal Licin Kecamatan Ulu Rawas. Hasil penelitian menemukan, sejumlah candi dan bukti-bukti kehidupan manusia pra sejarah lainnya seperti peralatan batu. 
 
"Indikasi benda megalitikum lainnya juga ditemukan berupa batu silendris yang bentuknya mirip dengan temuan di Jambi," kata Nurhadi. 

Nurhadi menambahkan, pihaknya juga melanjutkan penelitian-penelitian pada sejumlah daerah, seperti di daerah Kabupaten Lahat, Pagar Alam dan Ogan Komering Ulu Selatan. 
 

Penemuan-penemuan benda bersejarah, seperti lumpang batu, candi dan benda-benda megalitikum menjadi bukti tingginya peradaban di daerah itu. 

MENGUAK SEJARAH PENEMUAN MEGALIT DI BUMI PESEMAH (BESEMAH) SUMATERA SELATAN


Perjalanan Menembus Peradaban
...Padamu, akulah keluarga menghadap gunung. Letus api dan kedinginan melahirkan kisahku... 

POTONGAN syair T Wijaya di atas, dikutip dari dinding jejaring sosial facebook, media komunikasi peradaban masyarakat masa kini. Kata-kata itu “terpahat” dalam bentuk tulisan, setelah penyair Palembang ini membaca laporan Ekspedisi Megalitik Pasemah yang dilakukan Tim Sriwijaya Post, baik melalui jaringat internet maupun koran cetak pekan akhir tahun 2011. 

Perjalanan menyusuri jejak peta topografi yang menggambarkan sebaran situs arkeologi yang dikeluarkan Kantor Balai Arkeologi Palembang tahun 2007. Jejak sebaran batu megalit berupa arca manusia dan binatang, menhir (batu tegak) dan dolmen lempengan batu berbentuk meja dan bilik batu (chamber stone ada pula yang menyebutnya rumah batu atau kubur batu –karena bangunan ini berada di bawah permukaan tanah), lesung, maupun batu dakon –batu berlubang. 

Sebaran megalit, batu yang telah mendapat sentuhan dan pahatan manusia, terbentang di kawasan di sepanjang aliran utama (mainstream) Sungai Lematang dan anak-anak sungai, terutama Sungai Selangis, Sungai Endikat dan Sungai Mulak. Membentang dari Timur ke Barat menuju ke Gunung Dempo. 

Gunung Dempo berketinggian 3.159 meter dari permukaan laut (mdpl), merupakan titik tertinggi di wilayah Sumatera bagian Selatan. Pada cuaca cerah, gunung yang berada kawasan gugusan Pegunungan Bukit-Barisan ini, puncak Dempo terlihat dari pesawat ketika mulai terbang atau mendarat di kota Palembang yang berjarak sekitar 200 kilometer –ditarik garis lurus. 

Aliran sungai-sungai dan puncak Gunung Dempo menjadi penanda (signified) dan –secara konsisten—berkaitan dengan keberadaan sebaran situs-situs megalitik di wilayah administratif Kabupaten Lahat. Kini, Pagaralam –secara geografi berada di lembah pegunungan Dempo-- menjadi pemerintahan kota, sebagian situs itu berada di wilayah Kota Pagaralam. 

Cerita tentang batu berukir ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Pasemah (sebutan lain Besemah yang diambil dari nama ikan Semah atau ikan cengkak atau nama Latin-nya Tor douronesi). Masyarakat yang mendiami di kawasan dataran tinggi Dempo dan Bukit Barisan. 

Etnik Pasemah yang sebagian besar bercocok tanam dan berkebun ini, berkembang menjadi sub-sub etnik seperti Semendo, Ogan Ulu, Kisam sampai ke Way Tenong (Lampung Barat) hingga Sumberjaya, Kabuapten Tanggamus Lampung Selatan. Konon, mereka berasal dari Bukit Lumut, menjadi cikal bakal komunitas yang berdiam di dataran tinggi Bukit Barisan, tersebar ke Bengkulu, Lampung dan tentu saja Sumatera Selatan. 

Peradaban megalitikum Pasemah ini, menurut peneliti dari Balar Palembang Kristantina Indriastuti (46), usianya ada yang mencapai 5.000 sampai 2.000 tahun Sebelum Masehi . Peradaban manusia di dataran tinggi Pasemah sudah berlangsung jauh sebelum kedatangan Kerajaan Sriwijayayang diperkirakan berlangsung antara abad ke-6 sampai ke-9 Masehi. Kesimpulan tentang kehidupan era Sriwijaya ini berdasarkan temuan Prasasti Kedukan Bukit bertahun 683 M dan temuan lain seperti Prasati Batukapur (Bangka Barat) dan sejumlah prasasti di sekitar kota Palembang. 

Kajian intensif peneliti Balar Palembang dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 20 tahun terakhir, setidaknya dapat mempertahankan eksistensi temuan benda-benda purbakala. Benda-benda prasejarah yang tersebar di kawasan lebih dari 80.000 hektare dari Lahat sampai ke Gunung Dempo . menjadi peninggalan terbesar budaya megalitikum di Indonesia, seperti masyakat Nias (Sumatera Utara) dan Nusa Tenggara Timur. Sedikitnya 20 lokasi peninggalan megalitik, “Kemungkinan temuan akan terus bertambah,” kata Prof Dr Haris Sukendar, pakar megalitik dari Puslit Arkenas, bebarapa waktu lalu. 

Haris Sukendar sejak tahun 1990 telah menjelajah wilayah Pasemah hingga ke kawasan hutan Rimba Candi, Bukit Barisan, perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu. Penelitian semakin intensif pasca tahun 1990-an. Sebenarnya sejak masa Pemerintahan Kolonial Belanda, peneliti dari Belanda Van der Hoop telah mendata sebagian besar peninggalan megalit selam dua tahun, berdasarkan laporan masyarakat Pasemah. 

Tahun 1970-an penelitian serupa dilakukan bahkan mereka tinggal bertahun-tahun dan ikut merasakan kehidupan masyarakat Pasemah yang lebih “modern”. Pertengahan tahun 2011, arkeolog Balar Palembang Retno Purwanti, mempublikasi hasil penelitaian orang Korea bahwa usul nenek moyang mereka berasal dari Pasemah. 

Klaim peneliti Korea ini menjadi logis apabila mengikuti hipotesis Prof Arysio Santos yang menulis buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia, versi terjemahan. Hasil penelitian Santos yang pakar fisika-nuklir selama 30 tahun, ciri-ciri kerajaan Atlantis yang hilang cocok dengan wilayah Nusantara. Dan Gunung Dempo disebut sebagai satu dari tiga pilar langit, bersama gunung api purba Toba dan Krakatau. 

Peradaban Pasemah, menurut Kristanti, berkaitan dengan temuan perdaban manusia Goa yang hidup di masa Pleistosen yang berlangsung 74.000 tahun SM, era zaman es sebelum mencair 11.600 tahun SM, seperti teori yang diajukan oleh Santos. Fosil manusia goa ditemukan di Goa Harimau, Ogan Komering Ulu, yang terdapat di dekat aliran Sungai Ogan atau selatan Gunung Dempo. 

Situs megalitik Pasemah bisa menjadi “pintu masuk” untuk mengungkap peradaban di Sumatera Selatan, yang masih menjadi misteri. Bukan sebatas mengumpulkan temuan-temuan situs megalitik baru, tetapi membaca simbol, tanda-tandadan pesan yang ditinggalkan melalui torehan yang dibentuknya; Tetapi membaca isi pesan yang melalui media batu-batu yang teronggok seperti benda mati dan sebagian sudah dirusak. 

Perjalanan menelusuri sebaran situs megalitik membuat kita tak berdaya. Bagaikan orang “buta hurup” yang tak mampu membaca dan memahami pesan pembuat bilik batu yang membelakangi atau menghadap Dempo, jika dibandingkan rumah baghi berukir secara vertikal dan horizontal berusia ratusan tahun . 

Tim tak mampu membaca teks arca sepasang harimau bertunggangan sambil mencengkeram anak kecil di Situs Pagaralam, Kecamatan Pagargunung (Lahat); Dua situs batu berukir manusia dua manusia dililit ular di situs Tanjungaro (Pagaralam) dan di Desa Pulaupanggung, Kecamatan Pajarbulan (Lahat). Atau batu berlubang (dakon) dan lesung batu, di situs Tinggihari, Pajarbulan (Lahat), situs Batu Gong, Belumai dan Tegurwangi (Pagaralam). 

Media yang digunakan untuk menuliskan syair T Wijaya di atas, mudah dipahami karena kita berada di masa peradaban, bahasa, dan simbol yang sama; Dan mengetahui konteks lahirnya pesan yang disampaikan. Syairnya tak terbaca di komputer yang rusak. (Sumber: Sriwijaya Post)

Senin, 24 Juni 2013

Penemuan Harta Karun Berupa Emas Batangan dan Guci Antik di Banyuasin Sumatera Selatan

Palembang - Sebuah kapal tua berhasil ditemukan di areal sawah milik Lasmijan di Jalur 16 Desa Margomulyo, Kecamatan Muarasugihan, Banyuasin, oleh petugas Badan Arkeologi Pusat (BAP). Sebelumnya di lokasi itu Lasmjian menemukan guci antik dan batangan emas.

Sejauh ini petugas baru berhasil membongkar kayu-kayu panjang yang menyembul dari dalam tanah, Kamis (15/4/2011).

Diperkirakan kayu-kayu tersebut merupakan tiang-tiang dari sebuah bangkai kapal. Tetapi belum diketahui secara pasti apakah merupakan peninggalan pada masa kerajaan atau masa peninggalan bangsa penjajah.

Awalnya tahun 2009, Lasmijan menemukan guci antik di lokasi tersebut. Benda tersebut telah dimiliki dan disimpan di rumahnya. Beberapa bulan kemudian dia menemukan batangan emas, guci yang sudah tidak utuh dan sejumlah barang berharga lainnya.

Mendengar informasi tersebut, pemerintah setempat melaporkan temuan tersebut ke Badan Arkeologi Pusat. Selanjutnya, sejak 14 April 2011 kemarin tim dari Badan Arkeologi Pusat melakukan penggalian, dan ditemukan bangkai kapal tua yang terpendam di dalam tanah tersebut

Penemuan Arca Pengikut Budha di Pagaralam



Palembang - Warga Dusun Cawang Lama, Kecamatan Dempo Utara, Pagaralam, Sumatera Selatan, kembali menemukan situs megalit berupa arca di tengah perkebunan kopi. Sayang arca itu tidak lagi memiliki kepala.

Selain tanpa kepala, permukaan arca itu diselimuti lumut, sehingga bentuknya nyaris tak dikenali. Hanya seperti onggokan batu besar. Tetapi, setelah dibersihkan oleh si pemilik kebun, terlihat guratan atau ukiran pada arca tersebut. 

"Terlihat gambar menyerupai tangan," kata Temi, warga Pagaralam, Minggu (04/03/2012).

Penemuan itu sendiri sudah dilaporkan ke petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pagaralam, yang tak lama kemudian melakukan pengecekan di lapangan bersama sejumlah wartawan.

Sementara Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti mengatakan sangat senang dengan adanya penemuan tersebut. "Tapi saya belum dapat memberikan komentar, sebab belum melihatnya secara langsung maupun dari fotonya. Yang jelas penemuan tersebut harus dilanjutkan dengan penelitian," ujarnya kepada detikcom, Minggu (04/03/2012).

Sebelumnya, Selasa (24/1/2012) lalu, warga setempat menemukan miniatur bangunan vihara berukuran 15 cm dan panjang 30 cm. Benda yang terbuat dari batu mirip marmer dan dipenuhi dengan lapisan tembaga, pirit, dan kuningan seperti emas itu diperkirakan peninggalan China. Dari miniatur terlihat bangunan utama menyerupai vihara, dikelilingi pagar berukiran China, dan di pintu gerbang terdapat dua arca mirip singa. 

Jauh sebelumnya, di tempat tersebut juga ditemukan patung prajuritbatu gongrumah batupatung gajah, dan lain-lain. 

Sebagai informasi, Pagaralam merupakan wilayah yang paling banyak ditemukan arca peninggalan era megalitik Bukitbarisan Pasemah. Tradisi ini berkembang sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi. Meski belum belum ada benang merahnya, sejumlah sejarawan di Palembang menyakini masyarakat yang mengembangkan tradisi tersebut juga menjadi kekuatan yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Penemuan Mata Tombak Naga Emas di Pagaralam




Lagi-lagi benda purbakala ditemukan di Pagaralam. Bila sebelumnya penemuan artefak berupa patung purbakala, kali ini mata tombak yang terbuat dari emas. Belum diketahui secara pasti benda itu berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya atau masa awal masuknya Islam ke Pagaralam.

Mata tombak emas ditemukan Diyanto (40), warga Kelurahan Tegur Wangi Kecamatan Dempo Utara, Pagaralam, Sumatera Selatan, lima hari lalu di kebun kopi miliknya.
Penemuan itu bermula ketika Diyanto membersihkan kebun kopinya. Cangkulnya mengenai benda keras. Setelah dicek, ternyata benda itu merupakan mata tombak berukir naga dan berwarna seperti emas.

Diyanto melaporkan hal tersebut ke pemerintah. Tak lama kemudian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pagaralam, Sukaimi, mendatangi Diyanto di rumahnya, Minggu (01/04/2012), guna melakukan pendataan terhadap benda tersebut. 

Setelah melakukan pengecekan, Sukaimi memperkirakan benda tersebut peninggalan dari masa Kerajaan Sriwijaya. "Sepertinya benda tersebut merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Sriwijaya," katanya, Senin (02/04/2012).

Sukaimi mengirimkan data penemuan tersebut ke Badan Arkeologi Palembang. 

Sementara Kristantina Indriastuti dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang, memperkirakan jika dilihat dari bentuk dan tanda-tanda benda purbakalanya, diduga benda tersebut berasal dari masa awal masuknya Islam masuk ke Pagaralam. 

"Ini hanya benda pusaka atau hiasan bukan buat berperang dan berburu. Namun guna memastikannya harus dilakukan penelitian terhadap benda tersebut," katanya.

Sedangkan Budayawan Erwan Suryanegara, menilai dapat saja benda tersebut berasal dari masa akhir Kerajaan Sriwijaya. "Kalau dari masa awal Islam itu diragukan, sebab memiliki rupa naga. Islam yang berkembang di Sumsel sendiri tidak membenarkan rupa makhluk hidup dalam hiasan atau simbol. Tapi dapat saja benda tersebut sebagai
hadiah dari Kerajaan Palembang yang Islam, yang mana masih terjadi percampuran ajaran Islam dengan ajaran agama sebelumnya atau tradisi Tionghoa. Memang sebaiknya dilakukan penelitian yang lebih jauh," katanya.

Erwan menjelaskan bahwa di masa Kerajaan Sriwijaya, kemungkinan besar Islam masuk ke Sumatera Selatan. Ini dibuktikan adanya surat dari seorang raja Palembang Sri Indrawarman kepada Khalifah Bani Umayah di akhir abad ke-8.

Menguak Penemuan Arca Kepala Manusia di Pagaralam




Warga Dusun Curup, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan menemukan tiga arca kepala manusia yang diduga merupakan peninggalan zaman prasejarah. Tiga arca kepala manusia itu diyakini berumur di atas 4.000 tahun.

Tiga arca itu ditemukan di pingir Sungai Cawang dengan kondisi kepala terpisah dari tubuh. Sementara, badannya sudah roboh tenggelam di pinggir sungai, satu lagi hanya terlihat bagian kepala dengan mata melotot, sementara bagian lain tertimbun tanah.

Posisi ditemukannya arca tersebut berada tepat di dua jalur sungai di antara bebatuan yang sudah tersusun rapi bertingkat-tingkat membentuk bangunan candi dan pintu gerbang sebuah kerajaan.

"Kami menemukan tiga arca peninggalan prasejarah muara Sungai Selangis besar dan kecil dengan posisi menempel di dinding bebatuan yang sudah tersusun rapi seperti anak tangga berukuran cukup lebar," kata Burlian warga setempat, Selasa (1/1) seperti dilansir Antara.

Penemuan arca tersebut berawal ketika dia hendak mencuci tangan setelah bekerja di kebun kopi di sekitar alur Sungai Selangis. Saat itu tidak sengaja terlihat bongkahan batu menyerupai kepala manusia masih menempel dengan kondisi retak hampir roboh.

"Ketiga arca ini semuanya masih dalam posisi menempel di dinding batu dan ada juga yang sebagian masih tertanam di dalam tanah dasar sungai," katanya.

Ia mengatakan, bentuk arca ini belum sempurna karena baru berupa goresan lingkaran mata bulat besar, masih belum menunjukkan bentuk tubuh manusia utuh.

Diperkirakan ukuran setiap arca bisa mencapai diameter 60-70 centimeter dengan tinggi sekitar 3 meter dan ukurannya sebesar hewan kerbau.

Dia menambahkan, kalau dilihat dari bentuk dan susunan batu yang bertingkat-tingkat menjadi bukti jika di aliran sungai ini banyak tersimpan megalit.

"Namun masih perlu dilakukan penggalian dan pembersihan lokasi bebatuan di sekitar penemuan arca, selain hutan belukar dan sudah tertimbun tanah cukup dalam," ujar dia.

Dia juga mengatakan, ada arca yang tenggelam di Sungai Selangis. Namun, arca itu dapat dilihat saat kondisi air sedang jernih.

"Memang di sekitar Dusun Cawang dan Curup sudah banyak penemuan beberapa peninggalan sejarah seperti megalit dan arca prasejarah yang sudah berumur ribuan tahun, dan termasuk masa Kerajaan Sriwijaya," katanya.

Sementara itu Arkeologi dari Balar Palembang, Kristantina Indiastuti memperkirakan arca tersebut berumur lebih dari 3.000 tahun.

"Kalau melihat dari bentuknya diperkirakan arca yang baru ditemukan warga Dusun Curup, Kelurahan Muarasiba, Kecamatan Pagaralam Utara itu merupakan peninggalan pra sejarah berumur lebih dari 3.000 hingga 4.000 tahun," kata dia.

"Namun untuk memastikan berapa umur dan peninggalan zaman apa temuan arca tersebut, masih perlu dibuktikan secara ilmiah dengan penelitian, memang penemuan benda bersejarah di Pagaralam cukup luar biasa," ungkapnya.

Penemuan Patung Naga Emas di Pagaralam, Sumatera Selatan

Patung-Naga-Mas.jpg


PAGARALAM, Tribunnewspekanbaru.com- Sebuah patung berbentuk naga emas serta keris garuda ditemukan Deni Saputra, warga Dusun Rimba Candi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Tengah, di kawasan Bukit Raje Mandare, sekitar dua minggu yang lalu. Patung dan keris tersebut dipercayai warga sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.


Bukit Raje Mendare merupakan salah satu lokasi yang dipercayai masyarakat Pagaralam merupakan kawasan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Bukit tersebut berada di wilayah perbatasan antara tanah Besemah dengan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

Menurut kakak Deni Saputra, Basrani (40), warga Dusun Rimba Candi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Tengah yang menemukan patung naga emas, penemuan berdasarkan mimpi atau wangsit yang diterima adiknya.

Setelah mendapat wangsit mereka harus melakukan proses ritual untuk dapat mengambil patung tersebut. “Saat itu diberi pentunjuk jika di kawasan Bukit Raje Mandare ini merupakan lokasi Candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya,” katanya menceritakan penemuan oleh adiknya.

Untuk sampai ke lokasi penemuan patung tersebut, seseorang harus menempuh jarak yang cukup jauh. Bahkan beberapa sungai dan hutan rimba harus dilalui. Bukit Raje Mendare tersebut termasuk kawasan hutan lindung.

“Kami harus berjalan melewati hutan rimba, bukit terjal dan termasuk melintasi beberapa sungai dengan arus cukup deras untuk dapat sampai ke lokasi,” ujar Basrani.

Saat ini kata Basrani, patung tersebut berada di tangan Deni Saputra. Deni kini tengah berada di Kaur, Bengkulu dan belum bisa dikonfirmasi soal temuan.

Terpisah, Balai Arkeologi Palembang, Kristantina mengatakan, kemungkinan penemuan warga merupakan peninggalan dari zaman Islam yang masuk ke Sumatera. Pada zaman pra sejarah masyarakat belum mengenal logam atau besi.

“Kita tidak pasti hasil temuan warga tersebut, karena jika pada zaman pra sejarah masyarakat belum mengenal logam. Kemungkinan temuan tersebut merupakan peninggalan zaman kerajaan islam masuk ke sumatera,” jelasnya.

Penemuan Arca Prajurit di Pagaralam

Ditemukan arca prajurit diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Sejumlah warga Dusun Cawang Baru, Kelurahan Muarasiban, Kota Pagaralam, Sumsel, Selasa (6/3), mengelilingi temuan megalit di kebun kopi, berupa arca diperkirakan seorang prajurit masa Kerajaan Sriwijaya. (FOTO ANTARA/Asnadi M Aridi/12)
Pagaralam, Sumsel, (ANTARA News) - Warga Dusun Cawang Baru, Kelurahan Muarasiban, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa, kembali menemukan arca manusia tanpa kepala mirip dengan prajurit zaman Kerajaan Sriwijaya.

Arca itu ditemukan di perkebunan kopi ini, dan sudah banyak mengalami kerusakan serta beberapa bagian banyak hilang dan rusak, seperti leher dan kepalanya.

Bentuk arca ini mirip seorang prajurit sedang duduk di atas balok kayu, dan menggunakan aksesoris kerajaan berupa selempang di bahu kiri, ikat pinggang, tombak dan kalung, termasuk gelang.

"Kalau melihat dari bentuknya bisa jadi arca yang baru di temukan di Dusun Cawang Baru, Kelurahan Muarasiban, Kecamatan Dempo Utara itu merupakan peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya, karena menggunakan tombak ukuran cukup besar, ukiran di tangan dan ada hiasan mirip prajurit," kata Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti.

Ia menilai, penemuan ini cukup luar biasa karena baru di Pagaralam ini ada arca menggunakan tombak ukuran cukup besar, lebih besar dibandingkan dengan yang sudah pernah ditemukan di Desa Gunung Megang, Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat.

"Memang daerah Pagaralam dan Lahat, dahulunya merupakan penyangga Kerajaan Sriwijaya, sehingga wajar kalau arca tersebut mirip dengan prajurit," ujar dia pula.

Dia mengatakan, jika dilihat dari motif yang terdapat pada arca itu, diperkirakan sudah berumur sekitar 600 hingga 1.000 tahun.

"Pada masa itu sudah mengenal besi untuk melakukan pemahatan, termasuk membuat arca tersebut," kata dia lagi.

Dia menjelaskan pula bahwa motif arca itu juga menunjukkan merupakan peninggakan abad ke-10 hingga 14 Masehi, sedangkan Kerajaan Sriwijaya masuk Palembang sekitar abad ke-7 Masehi.

Namun, kata Kristantina, secara sekilas temuan itu diprediksi peninggalan Kerajaan Sriwijaya, karena bisa dilihat dari berbagai perlengkapan yang terdapat pada arca tersebut.

"Kita sudah memprogramkan penelitian berbagai temuan baru peninggalan megalitik di Kota Pagaralam, seperti arca, kubur batu, tapak tangan batu, prasasti dan sejumlah penemuan lainnya," kata dia.

Menurut dia, penelitian dan pendataan akan dilakukan Balai Arkeologi Palembang bekerjasama dengan BP3 Jambi di semua kecamatan yang telah ditemukan ratusan peninggalan megalitik dalam berbagai jenis, seperti batu datar, dolmen, tetralith, lumpang batu dan lesung batu di daerah Pagaralam.

"Kami sudah memprogramkan Juli 2012 melakukan penelitian terhadap megalit di Kota Pagaralam," ujar dia pula.

Petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai mengatakan, cukup banyak ditemukan megalit di daerah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, namun temuan arca terbanyak di daerah Pagaralam.

"Kita minta agar masyarakat dan pemerintah setempat tidak melakukan penggalian sendiri terhadap arca yang baru ditemukan tersebut, sebelum tim Balai Arkeologi dan BP3 Jambi melakukan penelitian," ujar dia.

Ia menyatakan bahwa langkah yang sudah dilakukan untuk menyelamatkan berbagai temuan peninggalan bersejarah tersebut adalah segera membebaskan lahannya, termasuk pemagaran lokasi situs dan menunjuk juru kunci untuk menjaga serta memeliharanya

Mengungkap Temuan-temuan Arkeologi di Lahat dan Pagaralam

LAHAT--MICOM: Peneliti dari Balai Arkeologi Kota Palembang, Sumatra Selatan, menemukan dua situs baru di Kota Raya Lembak dan Desa Gunung Kaya, Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat, yang diperkirakan berumur 1.000 hingga 1.400 tahun. 

Peneliti Balai Arkeologi Kota Palembang Kristantina Indriastuti, di Lahat, Minggu (23/10), mengatakan, penemuan baru di Desa Kota Raya Lembak berupa 28 artefak yang terdiri atas kampung megalit, tujuh bilik batu, empat lumpang batu, lesung batu, menhir atau batu tegak, dan 11 dolmen atau meja batu. Artefak tersebut diperkirakan berumur 1.400 tahun atau merupakan peninggalan abad ke-14. 

Menurut dia, di lokasi yang sama juga ditemukan empat titralit atau batu bersusun, pahatan orang naik gajah, fragmen gerabah, dan keramik asing. "Penemuan di Desa Gunung Kaya, Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat berupa tempayan kubur, hasil penelitian 'dating' menunjukkan benda itu telah berumur sekitar 1.000 tahun atau merupakan peninggalan abad ke-10," ujarnya. 

"Proses penentuan situs yang kami temukan dikenal dengan istilah dating atau penelitian umur suatu situs tempat ditemukan peninggalan arkeologi itu, dan dengan sampel arang yang dianalisis di laboraturium Badan Tenaga Aton Nasional Bandung," ujar dia. Penelitian untuk menentukan umur situs atau temuan megalit itu menggunakan sampel arang dengan metode radio carbon dating, dengan dukungan dana penelitian dari Balai Arkeologi Palembang sendiri. 

"Untuk menemukan beberapa situs baru pada kedua daerah tersebut dibutuhkan waktu sekitar satu minggu melalui penggalian," tambahnya. Kristantina mengemukakan, selama ini cukup banyak hasil penemuan situs atau peninggalan megalitik di daerah Pasemah baik di wilayah Kabupaten Lahat maupun Kota Pagaralam. "Bila dibandingkan dengan daerah lain, Lahat dan Pagaralam memiliki temuan situs paling banyak di dunia," ujar dia. 

Penemuan situs purbakala di daerah atau negara lain, kata Kristantina, hanya satu atau dua jenis, sedangkan pada kedua daerah tersebut mencapai puluhan jenis dan bentuk. Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai mengatakan pemerintah daerah akan menganggarkan dana untuk meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan berbagai peninggalan sejarah termasuk situs, arca, dan kuburan batu di daerahnya. "Ribuan penemuan situs dan megalit di Lahat sebagian besar sudah masuk dalam pengawasan BP3 Jambi. 

Sementara Pemkab Lahat hanya memfasilitasi dalam proses pembebasan lahannya," ujar dia. Menurut dia, saat ini pemerintah daerah sudah melakukan berbagai program pembangunan untuk mendukung Lahat menjadi kawasan cagar budaya, termasuk menggalakkan promosi wisata sejarah.

Penemuan Situs Candi Peninggalan Sriwijaya dan Majapahit di Pagaralam

Tim dari Balai Arkeologi Palembang, Sumatera Selatan, menemukan situs yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya atau Majapahit yang berupa komplek candi di kawasan hutan lindung Dusun Rimbacandi, Kota Pagaralam.

"Kami menemukan kawasan peninggalan prasejarah yang banyak terdapat candi di atas lahan cukup luas yang diperkirakan mencapai 250 hektare terletak di dua daerah, yaitu Dusun Rimbacandi, Kota Pagaralam dengan Desa Padang Guci, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu," kata Wali Kota Djazuli Kuris di Pagaralam, Rabu.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil survei di Kecamatan Dempo Tengah, itu cukup banyak serpihan dan bebatuan merupakan salah satu bahan untuk pembuatan candi, bahkan ada yang sudah berbentuk mirip dengan peninggalan sejarah tersebut.

"Pagaralam bukan hanya memiliki aset peninggalan bersejarah saja, tapi termasuk sumber daya alam lainnya seperti emas dan termasuk kandungan minyak bumi, serta hutan yang merupakan kawasan terbuka hijau," kata dia.

Ia mengatakan, kemungkinan kalau sudah dilakukan penggalian di situs yang terdapat banyak candi tersebut bisa jadi merupakan terluas di Indonesia.
Namun yang menjadi persoalan kawasan itu, kata Djazuli, merupakan daerah hutan lindung berada di dua wilayah yaitu Kota Pagaralam, Provinsi Sumsel dan Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.

"Tentunya untuk melakukan penggalian candi tersebut masih harus izin dari pemerintah pusat karena berada di daerah hutan lindung, dan dua provinsi," ungkap dia.
Menurut dia, saat ini cukup banyak arca, kubur batu, dolmen dan ratusan megalit lainnya yang sudah dilakukan penggalian diduga merupakan salah satu komplek pemukiman masyarakat  pada abad VI zaman Kerajaan Majapahit atau erajaan Sriwijaya.

Bahkan pada Mei 2012, kata dia, tim dari Balai Arkeologi Palembang, bekerja sama dengan Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, melakukan penggalian terhadap penemuan komplek rumah batu dan beberapa benda purbakala yang ditemukan warga Pagaralam.
"Diperkirakan peninggalan purbakala terdapat di setiap daerah Kota Pagaralam ini merupakan bekas dua kerajaan terbesar di Indonesia tertanam dan terkubur tanah akibat gejala alam lain seperti gempa atau gunung meletus," katanya.

Sementara itu, petugas dari Balai Arkeologi Palembang Kristantina Indriastuti mengatakan, memang selama ini daerah Lahat, Pagaralam dan Empatlawang, cukup banyak terdapat penemuan sejumlah benda bersejarah dan benda cagar budaya yang sudah diteliti.

"Namun temuan baru itu masih perlu dilakukan penelitian dan pengkajian dari Balai dan BP3 Jambi untuk memastikan penemuan komplek candi terluas di Indonesia tersebut, termasuk umur dan peninggalan zaman kerajaan apa," ungkap dia.

Kristantina mengungkapkan, sebelumnya sudah pernah melakukan penelitian terhadap berbagai megalitik yang berada di Kecamatan Pajar Bulan, Jarai dan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, termasuk wilayah Pagaralam seperti 118 batu datar, 70 dolmen, 12 tetralith, 12 lumpang batu dan 23 batu lesung.

"Diperkirakan penemuan situs terdapat banyak candi tersebut merupakan peninggalan kedua kerajaan terbesar di nusantara tersebut berumur diatas 4.000-5.000 tahun sebelum masehi," ungkap dia.