Senin, 24 Juni 2013

Penemuan Arca Pengikut Budha di Pagaralam



Palembang - Warga Dusun Cawang Lama, Kecamatan Dempo Utara, Pagaralam, Sumatera Selatan, kembali menemukan situs megalit berupa arca di tengah perkebunan kopi. Sayang arca itu tidak lagi memiliki kepala.

Selain tanpa kepala, permukaan arca itu diselimuti lumut, sehingga bentuknya nyaris tak dikenali. Hanya seperti onggokan batu besar. Tetapi, setelah dibersihkan oleh si pemilik kebun, terlihat guratan atau ukiran pada arca tersebut. 

"Terlihat gambar menyerupai tangan," kata Temi, warga Pagaralam, Minggu (04/03/2012).

Penemuan itu sendiri sudah dilaporkan ke petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pagaralam, yang tak lama kemudian melakukan pengecekan di lapangan bersama sejumlah wartawan.

Sementara Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti mengatakan sangat senang dengan adanya penemuan tersebut. "Tapi saya belum dapat memberikan komentar, sebab belum melihatnya secara langsung maupun dari fotonya. Yang jelas penemuan tersebut harus dilanjutkan dengan penelitian," ujarnya kepada detikcom, Minggu (04/03/2012).

Sebelumnya, Selasa (24/1/2012) lalu, warga setempat menemukan miniatur bangunan vihara berukuran 15 cm dan panjang 30 cm. Benda yang terbuat dari batu mirip marmer dan dipenuhi dengan lapisan tembaga, pirit, dan kuningan seperti emas itu diperkirakan peninggalan China. Dari miniatur terlihat bangunan utama menyerupai vihara, dikelilingi pagar berukiran China, dan di pintu gerbang terdapat dua arca mirip singa. 

Jauh sebelumnya, di tempat tersebut juga ditemukan patung prajuritbatu gongrumah batupatung gajah, dan lain-lain. 

Sebagai informasi, Pagaralam merupakan wilayah yang paling banyak ditemukan arca peninggalan era megalitik Bukitbarisan Pasemah. Tradisi ini berkembang sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi. Meski belum belum ada benang merahnya, sejumlah sejarawan di Palembang menyakini masyarakat yang mengembangkan tradisi tersebut juga menjadi kekuatan yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar